
General
International Youth SummitYouth Break the BoundariesYouth EmpowermentKorea Youth SummitKYS 2026Cultural Preservation ProjectGrup 1 Raih Best Group di Korea Youth Summit 2026 melalui Proyek SAUTIRISE
Korea Youth Summit 4th - Sep 13, 2026
Seoul, Korea Selatan - 9 September - Korea Youth Summit (KYS) 2026 sukses digelar pada 7-10 September 2026 di Seoul, Korea Selatan. Program ini kembali menjadi…
Full announcement
Seoul, Korea Selatan - 9 September - Korea Youth Summit (KYS) 2026 sukses digelar pada 7-10 September 2026 di Seoul, Korea Selatan. Program ini kembali menjadi ruang bagi pemuda global untuk menghadirkan gagasan bagi berbagai tantangan masyarakat.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah proyek Sautirise. Sebuah proyek yang diinisiasi oleh Grup 1 dan mendapatkan penghargaan Best Group Award. Penghargaan ini diberikan atas kerjasama luar biasa dan visi yang kuat selama forum berlangsung.
Tim Dengan Semangat Kolaborasi
Group 1 terdiri dari lima pemuda dengan latar belakang dan perspektif yang beragam. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam merancang gagasan Sautirise selama Korea Youth Summit 2026. Adapun anggota Grup 1 adalah:
Josephin Seraphin - Australia
Dominique Barksdale - United States of America
Nur Safi Nabilah Binti Laja Hassan - Malaysia
Yousef Qaroos - Saudi Arabia
Mariam Elawadi - United Kingdom
Keberagaman anggota menjadi modal untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Kolaborasi mereka kemudian menghasilkan gagasan yang menempatkan kebutuhan komunitas sebagai dasar perancangan proyek.
Gagasan Utama Proyek Sautirise
Sautirise lahir dari perhatian terhadap perempuan dan anak-anak di Sub-Saharan Africa yang menghadapi risiko keterbatasan akses pendidikan.
Data yang digunakan dalam proyek menunjukkan tingginya persentase anak perempuan yang berada di luar sekolah.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kesenjangan kemiskinan berbasis gender yang rentan dialami perempuan usia produktif. Karena itu, Sautirise dirancang untuk mengatasi hambatan pendidikan secara lebih menyeluruh dan berbasis kebutuhan komunitas.
Proyek ini tidak memandang akses sekolah sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Pendidikan dipadukan dengan dukungan kesehatan, keamanan pangan dan air, serta penguatan kapasitas masyarakat.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun rumah tangga yang lebih kuat dan komunitas yang tangguh.
Model ini juga mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, agama, dan struktur kepemimpinan masyarakat setempat.
Mengenal Lebih Dekat Proyek Sautirise
Dalam proyek ini, Group 1 mengembangkan tiga pilar utama untuk mendukung perempuan dan anak-anak berisiko. Pilar tersebut mencakup:
Health-Promoting Schools
Konsep ini mengintegrasikan pendidikan dengan layanan kesehatan dan keterlibatan komunitas.
Dukungan yang diberikan mencakup makanan, air bersih, layanan medis, WASH, dan konseling emosional.
Pendekatan tersebut bertujuan menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan sekaligus proses belajar.
Mobile Access Network
Mobile Access Network dirancang sebagai perluasan sistem sekolah menuju komunitas yang sulit menjangkau fasilitas pendidikan.
Jaringan ini menyediakan pembelajaran, dukungan sosial, dan sumber daya kesehatan secara lebih dekat.
Pembelajaran bersifat mandiri dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perempuan muda, pengasuh, serta penyandang disabilitas.
Model ini juga melibatkan pendidik, konselor, dan tenaga kesehatan untuk membangun kepercayaan komunitas.
Growth Tower Food & Agriculture Community
Program ini menggabungkan pertanian lokal dengan teknologi pertanian modern secara berkelanjutan.
Materinya mencakup pertanian berkelanjutan, nutrisi ternak, kesehatan hewan, dan peternakan.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu komunitas membangun sumber pangan dan penghidupan yang lebih mandiri.
AI Support for Future Literacy
Pemanfaatan AI menjadi bagian penting dalam meningkatkan akses dan kemampuan literasi masa depan.
AI dapat membantu menerjemahkan bahasa lokal, menyederhanakan materi, dan menyesuaikan pembelajaran.
Materi pembelajaran tetap disusun melalui keterlibatan guru dan komunitas lokal.
Hal ini memastikan teknologi tetap mendukung kebutuhan peserta tanpa menggantikan peran pendidik.
Critical AI Literacy and Human Verification
Sautirise tidak hanya memperkenalkan AI, tetapi juga mendorong penggunaannya secara kritis dan bertanggung jawab.
Peserta diarahkan untuk melakukan fact-checking, mengenali misinformation, memahami bias, dan memeriksa sumber.
Guru serta tenaga ahli lokal berperan dalam memverifikasi informasi dan mengevaluasi keluaran AI.
Dengan demikian, keberhasilan program diukur melalui penggunaan AI yang aman, kritis, dan bertanggung jawab.
Cultural Inclusion and Ethical Protection
Sautirise turut mempertimbangkan budaya, agama, bahasa, dan kebutuhan masyarakat dalam proses implementasinya.
Komunitas dilibatkan untuk menentukan informasi yang sesuai dan menyetujui materi pembelajaran.
Proyek ini juga menekankan perlindungan data pribadi serta larangan membuat asumsi berdasarkan etnis atau agama.
Pendekatan tersebut bertujuan membangun kepercayaan sekaligus memastikan teknologi diterapkan secara etis.
Penutup
Melalui Sautirise, Group 1 menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi komunitas.
Proyek ini menggabungkan akses pendidikan, kesehatan, teknologi, budaya, dan keberlanjutan dalam sebuah pendekatan terintegrasi.
Keberhasilan implementasi tetap membutuhkan kepercayaan masyarakat, kolaborasi lokal, perlindungan data, serta verifikasi manusia.
Dengan semangat kolaborasi pemuda global, Sautirise menjadi contoh bagaimana gagasan inovatif dapat diarahkan menuju dampak komunitas yang berkelanjutan.